Konsultasi Pengobatan .
HIV/AIDS dan Kecanduan Narkoba .
Hotline: 087878821248.
WA: 0822.4610.4034 - 081385386583 .
Home » , , , » Apakah Ada Konspirasi dalam Kecelakaan KA di Bintaro?

Apakah Ada Konspirasi dalam Kecelakaan KA di Bintaro?

Written By Blogs owner SidikRizal on 10 Desember 2013 | 14.41

 Merdeka.com - 7 Orang tewas dalam tabrakan antara KRL vs truk tangki di Pondok Ranji, Jakarta Selatan. Puluhan orang juga mengalami luka dalam insiden tersebut.  Tragedi ini mengingatkan kita pada kecelakaan serupa yang terjadi pada 19 Oktober 1987 tepatnya di Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan. Saat itu, 156 orang tewas dan sekitar 300 orang luka-luka.  "Tempat kejadiannya tak jauh dari kejadian kecelakaan yang dulu," ujar salah satu warga, Dedi, di lokasi kejadian, Senin (9/12).   Pada 19 Oktober 1987 silam terjadi tabrakan hebat dua buah kereta api di daerah Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan. Konon ini merupakan kecelakaan terburuk dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia. Peristiwa ini juga menyita perhatian publik dunia.  Saat itu, kereta api yang berangkat dari Rangkasbitung, lalu tabrakan dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun Tanah Abang. Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu musibah paling buruk dalam sejarah transportasi di Indonesia.  Penyelidikan setelah kejadian menunjukkan adanya kelalaian petugas Stasiun Sudimara yang memberikan sinyal aman bagi kereta api dari arah Rangkasbitung, padahal tidak ada pernyataan aman dari Stasiun Kebayoran. Hal ini dilakukan karena penuhnya jalur di stasiun Sudimara.  Kecelakaan terjadi di antara Stasiun Pondok Ranji dan Pemakaman Tanah Kusir, Sebelah Utara SMUN 86 Bintaro. Di dekat tikungan melengkung Tol Bintaro, tepatnya di lengkungan S, berjarak kurang lebih 200 m setelah palang pintu Pondok Betung dan 8 km sebelum Stasiun Sudimara.
Suasana duka dan kepedihan bagi sebagian bangsa Indonesia terutama keluarga para korban atas tragedi maut musibah yang terjadi di Bintaro, Jakarta Selatan. Berbagai asumsi dan pendapat umum bermunculan, bahkan ditengarai kemungkinan besar PT KAI akan menuntut PT Pertamina, karena kuat dugaan terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh supir truk tangki BBM yang disengaja.


 TEMPO.CO, Jakarta - Sylvia Soleha atau Bu Pur mengaku pernah bertemu dengan Jenderal Sutarman pada 2010. Saat itu Sutarman menjabat sebagai Kepala Kepolisian Polda Metro Jaya. Menurut Bu Pur, ihwal pertemuan tersebut adalah untuk meminta tolong pengamanan demo di Kementerian Pemuda dan Olahraga.  "Widodo sore hari menelepon ke saya, 'Bu mohon bantuan untuk pengamanan di Kemenpora karena besok pagi ada demo besar'," kata Bu Pur saat bersaksi untuk terdakwa Deddy Kusdinar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa, 10 Desember 2013. Widodo yang dimaksud merupakan Widodo Wisnu Sayoko, sepupu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.   Keesokan harinya, Bu Pur bertemu Widodo dan Deddy di Polda Metro Jaya untuk menyampaikan maksudnya ke Sutarman. Namun, sebelum Bu Pur menjelaskan lebih lanjut, ketua majelis hakim Amin Ismanto memotong pembicaraan Bu Pur karena merasa aneh. Lantas, hakim Amin menanyakan hubungan demo di Kemenpora dengan Widodo dan kenapa meminta bantuan ke Bu Pur.  "Kebetulan beliau (Sutarman) teman suami saya, Pak Purnomo. Tarman juniornya suami saya (di Akpol)," ujar Bu Pur.  "Hubungan Widodo dengan Kemenpora?" tanya hakim Amin.  Lantas, Bu Pur menimpali, "Karena menyangkut pengamanan Pak."  "Apakah itu terkait dengan proyek Hambalang?" tanya hakim Amin lagi.  Bu Pur berkukuh mengelak bahwa pertemuan tersebut tak ada kaitannya dengan Hambalang. "Tidak ada, Pak. Pengamanan untuk demo yang ada di Kemenpora," ujar dia.  Hakim Amin pun kembali bertanya, "Widodo itu siapa?"  Bu Pur menjawab "Saya dimintai tolong, otomatis saya tolong, karena menyangkut pengamanan."  Lantaran jawaban Bu Pur yang tidak nyambung dengan pertanyaannya, hakim Amin pun agak kesal dan menyerah. "Mungkin saya terlalu cepat ngomong-nya," ujar Amin.  Menurut Bu Pur, saat bertemu dengan Sutarman, Deddy lah yang menyampaikan ke Sutarman akan ada demo di Kemenpora. Ia mengaku hanya mendengarkan. Sutarman, kata Bu Pur, akan segera mengamankan Kemepora dan mengirim anggota.  LINDA TRIANITAPenulis masih saja menatap prihatin pemberitaan televisi yang ditayang berulang-ulang, sementara sambil ber-online ria melalui media sosial twitter, beberapa teman berdiskusi secara online di inbox facebook dan DM twitter. Beberapa hal yang berbau politis pun mencuat dengan dugaan bahwa ini pekerjaan setan "intelijen" yang bertujuan untuk mengalihkan isyu besar lainya yang lebih besar.

Mengetahui hal ini saya hanya bisa tertawa saja, tanpa bermaksud meremehkan teori konspirasi oleh rekanan saya, yang terkadang suka saya panggil si "setan konspirasi" (SK) karena ide dan teorinya yang terkadang tidak masuk akal meskipun mungkin ada benarnya jika mau ditelusuri lebih jauh.

Sang SK bagi saya memang hampir mirip dengan informan terselubung yang berakal panjang,  meski tak jarang dia kadang mendadak kabur susah saya hubungi, seolah dia mencoba berkelit ketika rasa penasaran menggayut di benak saya, dan kadang penyelidikan saya tak mau berhenti sampai di situ.

"Kenapa anda yakin jika kecelakaan itu adalah sebuah konspirasi intelijen? Tidakkah penyidikan kepolisian belum selesai sekarang ini, bahkan sedang merekonstruksi kejadian kecelakaan bersamaan dengan proses perbaikan infrastruktur kereta api oleh PT KAI," cecar saya kepada sosok yang saya tidak ketahui jenis kelaminnya ini.

SK mengatakan, "Masak Anda tak melihat, bagaimana para pejabat tingkat nasional yang tampak begitu peduli secara tiba-tiba, padahal selama mana ada peliputan yang mengangkat aktivitasnya, kecuali dia diperiksa oleh KIPK untuk kasus besar Bank Century dan bahkan kemungkinan besar, kasus BLBI juga bisa masuk penyelidikan baru yang melibatkannya?" pancingnya mengusik nalar saya.

"Maksud bung SK, Wakil Presiden Boediono?"


"Salah!" jawabnya singkat.

"Salah gimana? Kan pejabat besar yang mendadak peduli dengan kecelakaan di Bintaro itu, paling tinggi levelnya adalah wapres Boediono. Bahkan sempat dia mengutarakan rencana jangka panjang dengan melibatkan Bappenas untuk membuat peningkatan infrastruktur transportasi kereta api dengan membuat rel KA layang di tahun-tahun mendatang, bukan?"

"Bukan itu salahnya, yang saya maksud kenapa Anda yakin memanggil saya 'Bung'? Memang Anda tahu saya laki-laki atau perempuan?" tanyanya meledek.

"Oke, apalah, mau saya panggil Bung, Ibu atau Mbak, yang paling penting, bagaimana mungkin wapres Boediono mendadak masuk teori konspirasi Anda dengan adanya kasus kecelakaan kereta api Commuter Line dengan truk tangki BBM Pertamina?" saya kejar terus dia.

  REPUBLIKA.CO.ID, BINTARO -- Wapres Boediono bereaksi terhadap tragedi Bintaro yang menewaskan enam orang. Pemerintah, katanya, akan membuat rencana jangka panjang, menengah dan pendek untuk mengantisipasi agar kecelakaan serupa tidak terjadi.  Dalam kunjungannya ke Rumah Sakit Dr Suyoto, Boediono mengatakan, keselamatan merupakan hal yang tak bisa ditawar. Karenanya, untuk jangka panjang pemerintah akan membuat elevating (jalur layang kereta api) untuk jalur yang melintasi jalan raya.  "Nanti Kemenhub, Bappenas dan instansi terkait buat studi pembangunan elevating dalam kota," katanya Boediono sesaat setelah menjenguk korban kecelakaan di RS Dr Suyoto, Selasa (8/12).  Untuk jangka menengah, ujarnya, harus segera dipercepat pembuatan underpass. Ini dirasa mendesak untuk dibuat di titik-titik perlintasan kereta api yang padat guna mengurangi resiko terjadinya kecelakaan.  Sementara dalam jangka pendek, PT KAI dan kemenhub diperintahkan untuk memeriksa seluruh alat keselamatan. Baik di kereta api mau pun sarana dan prasarana yang menunjang.  "PT KAI juga segera membuat panduan di kereta bagaimana langkah penyelamatan saat terjadi kecelakaan," ujarnya.  Dalam kunjungannya, Boediono menjenguk pasien korban kecelakaan KRL yang dirawat di RS Dr. Suyoto satu per satu. Boediono bersama istri memasuki kamar pasien korban kecelakaan dirawat.
"Coba Mas pikirkan saja, sekarang ini adalah masa-masa dimana kampanye 2014 sudah tinggal beberapa bulan lagi. Seperti sejarah pada beberapa pemilu lewat, KPK sendiri mendeteksi bahwa menjelang tahun kampanye pemilu, ada saja kasus besar yang melibatkan sedikitnya uang rakyat hingga triliunan demi pemenangan pemilu." jawabnya lebih dari 140 huruf karena saya kembangkan dari tulisan tak lengkapnya yang pastinya agak susah dibaca bila saya salin tanpa perubahan.

"Itu teori Anda, dan belum ada bukti kuat untuk itu!" emosi saya mulai terpancing.

"Kok Anda naif banget sih? Justru kiprah Boediono selama ini nggak kelihatan. Mengapa saat bencana kecelakaan tabrakan KA dengan truk Pertamina di Bintaro beberapa hari lalu, mendadak dia nongol dan bicara dengan bawa-bawa Bappenas, seolah dia lupa bahwa dia sedang bermasalah dengan KPK. Seorang wakil presiden, sedang dalam pemeriksaan KPK, memang tak dilarang turut berduka kepada keluarga korban musibah kecelakaan, tapi coba Anda peka sedikit. mengapa dia mendadak peduli dengan sesuatu yang sebenarnya adalah tugas instansi terkait."

Saya terdiam membacanya berusaha mencerna kata-katanya yang mulai agak "nyambung" meskipun pikiran saya masih berkabut curiga.

"Tapi dia kan hanya seorang teknokrat dan kini hanya birokrat pejabat tinggi negara, apa mungkin dia terlibat dengan teori konspirasi bung SK!"

"Sekali lagi Anda bilang saya Setan Konspirasi dengan panggilan SK, saya gak akan menjawab dan meninggalkan Anda!" ancamnya serius.

"Ok! Jadi bagaimana saya sebut Anda?"

"Panggillah dengan nama lain terserah Anda, Anda kan baca nama akun saya?"

"Hahahahaha.... @JamesBond_007? hahaha, kalo itu memang mau Anda! tapi masalahnya bagaimana Saya bisa baca timeline Anda, gak ada satu twit pun yang ditulis. Bagaimana saya bisa buktikan ke publik, kalau Anda eksis. Dan lagi wajar dong kalau saya panggil Anda Bung?"

"Terserah!"

Hati saya mengutuk kecerdikannya yang bisa jadi senjatanya saat saya akan mempublikasikan setiap pembicaraan ini di blogs saya. Saya pun memasang strategi pancingan baru.
"Ok, Mr. Bond, kalau memang teori konspirasi Anda benar... coba paparkan, kalau perlu dengan bukti kuat bisa dalam bentuk link terkait, biar saya yang menelitinya."

"Thanks Mr. Rizal, you start being reasonable, and I like that."

Saya merasa dia mulai menerima dan saya mulai yakin, sepertinya dia memang mengerti bahasa Indonesia saya. Ya dia berkomunikasi dengan saya dalam bahasa Inggris dan Indonesia, campur-campur.

"Jangan sampai nanti orang banyak bilang bahwa tulisan saya ini hanya mencari sensasi publik dan popularitas, karena teori konspirasi Anda itu sangat sensitif."

"Oh ini belum seberapa, Mr. Rizal. Pembahasan berikutnya, Anda akan terkejut-kejut, bahwa ini akan bermuara pada presiden Anda sendiri, Mr. SBY."

"Eh hati-hati ya Mr Bond! Anda memancing-mancing nasionalisme saya sebagai warga negara yang tak mau pemimpinnya dilecehkan!", saya mulai emosi.

"Hahaha... Anda mau tahu kebenarannya atau membela presiden SBY secara membabi buta?"

"Tidak saya punya prinsip, presiden saya tidak bersalah, kecuali bukti kuat menyatakan beliau memang bersalah."

"Coba Anda telusuri, memangnya kemana saja kerja badan intelijen negara Anda? Mereka kan bekerja sesuai dengan perintah komandan tertinggi. Jika presiden RI itu adalah perwajahan negara Anda sebagai analogi tubuh kita. Maka semua aparatnya adalah anggota tubuh, sedangkan Anda sendiri adalah badan atau tubuh dari bangsa Anda. Maka BIN adalah benak tersembunyi yang mengatur semua jalannya pemerintahan Anda dengan SBY sebagai kepala negara. Cobalah berfikir seperti analogi saya ini."

Saya butuh waktu untuk mengerti kalimatnya, dan terpaksa saya baca berulang-ulang hingga beberapa menit. "Lalu?" kejar saya.

"Pasti dengan sepengetahuannya pulalah sebagai presiden dengan memerintah wakilnya, Boediono untuk datang berkunjung ke tempat kecelakaan, dan itu adalah pengalihan isyu besar yang sedang dialami Boediono dalam pemeriksaan KPK. Itu yang pertama."

Saya terdiam, dan saya biarkan dia menjelaskan semuanya.

Lalu coba Anda perhatikan persidangan kasus Hambalang, bagaimana hakim yang sedang memeriksa bu Pur, perhatikan bagaimana penyidik KPK menekan Bu Pur, alias Sylvia Sholeha, apakah mengenal Anas Urbaningrum. Coba Anda baca kutipan saya berikut ini:

JAKARTA, KOMPAS.com — Sylvia Sholeha atau yang akrab disapa Bu Pur mengatakan bahwa ia tak kenal dengan mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum saat bersaksi untuk terdakwa Deddy Kusdinar dalam kasus dugaan korupsi proyek Hambalang, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Selasa (10/12/2013). Bu Pur mengatakan, dia mencoret berita acara pemeriksaan (BAP) ketika diperiksa KPK.

Menurut Bu Pur, dia sempat dipaksa oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengaku mengenal Anas. Namun, pernyataannya soal Anas ini tak berkaitan dengan pertanyaan yang diajukan hakim.

"Saya tak pernah kenal dengan Anas Urbaningrum. Tapi, saat diperiksa, di situ saya dipaksakan untuk kenal Anas," kata Bu Pur ketika bersaksi. 

Salah satu hakim anggota, Anwar, kemudian langsung menimpali pernyataan Bu Pur sebab sebelumnya hakim tak menanyakan soal Anas kepada Bu Pur.

"Enggak ada di sini (BAP) ditanya kenal Anas. Yang ada itu permohonan izin," kata Anwar.

Bu Pur lalu membantah pernah mengajukan permohonan izin untuk menangani proyek pengadaan alat olahraga di Hambalang. Ia juga membantah BAP yang dibacakan hakim.

"Jadi, tidak benar ini BAP?" timpal Anwar.

"Bukan saya yang tidak benar, penyidiknya yang tidak benar. Saya tak pernah ditanya begitu," jawab Bu Pur.

Bu Pur mengaku saat itu diperiksa hingga malam hari di KPK sehingga hanya sekilas membaca BAP.

Sebelumnya, nama Bu Pur juga pernah muncul dalam sidang kasus Hambalang. Saat itu, Direktur Pemasaran PT Anak Negeri (anak perusahaan Permai Group) Mindo Rosalina Manulang mengatakan bahwa Bu Pur adalah kepala rumah tangga Cikeas.

Dari  persidangan Dedy Kusdinar itu, tampak bahwa BAP bisa berbeda dengan pernyataan Bu Pur. Coba juga Anda perhatikan bagaimana Bu Pur membawa-bawa nama Jendral Polisi Sutarman, yang barus saja dilantik sebagai Kapolri, saat menjelang Pemilu 2014 mendatang.

Saya makin pusing dengan bahasan si Es Bond-Bond ini. Masya Allah, kok orang asing yang saya anggap setan konspirasi ini seperti lebih menguasai permasalahan dibandingkan saya sebagai orang Indonesia dan wartawan pemerhati politik. Saya merasa ditohok dari belakang.

"Semakin jauh pembahasan kasus Hambalang, juga kasus Century, maka semakin jelas bagaimana dan siapa kah sosok presiden Anda yang jenderal militer murid Soeharto itu. Jenius sekali presiden Anda itu!" paparnya membuat saya gondok banget!

"Sudah jangan banyak berteori, langsung saja paparkan maksud Anda! Apa hubungannya kecelakaan KA yang bertabrakan dengan truk tangki BBM Pertamina dalam teori konspirasi Anda?" saya mulai gusar.

Silakan baca liputan Tempo berikut ini, ujar @JamesBond_007 yang bagi saya benar-benar seperti siluman.

TEMPO.CO, Jakarta - Rudy Alfonso, pengacara Deddy Kusdinar--terdakwa korupsi proyek gedung olahraga di Bukit Hambalang, Sentul, Bogor, Jawa Barat--bakal mencermati betul kesaksian Sylvia Sholeha alias Ibu Pur dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta yang digelar Selasa, 10 Desember 2013. Ia bakal mencecar keterkaitan antara Ibu Pur dan orang-orang yang diduga berasal dari Cikeas.

"Dalam pemeriksaan disebut yang bersangkutan dekat dengan Widodo," kata Rudy melalui telepon selulernya, Selasa pagi.

Widodo yang dimaksud Rudy bernama lengkap Widodo Wisnu Sayoko. Di hadapan penyidik KPK, Widodo mengaku sebagai sepupu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ibunya adalah adik Siti Habibah, ibu Yudhoyono. Perkenalan Bu Pur dengan Widodo dimulai sejak 2006, sewaktu menjenguk Siti Habibah yang sakit di Cikeas.

Bu Pur dengan Widodo membantu mengurus persetujuan anggaran proyek Hambalang menjadi multi-years senilai Rp 2,5 triliun. Persetujuan anggaran itu ditandatangani Wakil Menteri Keuangan merangkap Direktur Anggaran, Anny Ratnawati, pada 6 Desember 2010. Selain itu, keduanya, menurut sumber Tempo sebelumnya, diduga meraup uang sebesar Rp 2,5 miliar sebagai imbalan dari PT Adhi Karya, kontraktor Hambalang.

Peran Bu Pur juga pernah dipakai Wafid Muharam, bekas Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga, untuk menolak permintaan utusan M. Nazaruddin, bekas Bendahara Demokrat, yang ingin ikut menggarap proyek Hambalang. "Wafid mengatakan, proyek Hambalang sudah diminta oleh utusan Cikeas bernama Ibu Pur," kata Wafid kala itu kepada anak buah Nazaruddin, Mindo Rosa Manullang. (Baca: Bu Pur Sering Bawa Roti Unyil buat Menteri Andi )

Rudi berjanji akan menanyakan semua informasi tersebut dalam persidangan. Menurut dia, kesaksian Ibu Pur penting untuk memperjelas duduk persoalan dalam kasus tersebut. "Khususnya berkaitan dengan klien kami," ucapnya.

Ibu Pur bakal bersaksi di Pengadilan Korupsi bersama Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo dan bekas Bendahara Demokrat M Nazaruddin. Pengadilan juga bakal menghadirkan saksi lainnya, Rizal Syarifuddn, Asep Wibowo, serta Rima. (Baca: Suami Bu Pur Melamar Jadi Staf Menteri Syarief ).

0 komentar:

Posting Komentar

ISILAH BUKU TAMU KAMI

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2014. .- Rizal Abubakar Sidik - - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger