Konsultasi Pengobatan .
HIV/AIDS dan Kecanduan Narkoba .
Hotline: 087878821248.
WA: 0822.4610.4034 - 081385386583 .
Home » , » Kegelisahanku Disangka Teroris

Kegelisahanku Disangka Teroris

Written By Blogs owner SidikRizal on 25 Maret 2015 | 23.46

Mau jadi artis? Bukan itu tujuan gue.Mau jadi terkenal? Bukan itu juga tujuan gue. Mau jadi kaya raya? Bukan itu juga... Gak percaya?

Jadi komik atau comic stand up comedy hanyalah satu cara berkesenian dengan alasan pengabdian gue sebagai hamba kepada Sang Maha Pencipta gue, dan ini juga gue berbuat sesuatu yang positif bagi sesama gue di lingkungan gue.

Bonusnya kalo bisa mengingatkan dan mengajak bersama mentertawakan diri sendiri untuk menjadi manusia yang lebih baik, bukan jadi tambah hancur.

Jadi komika itu bukan politisi atau penguasa yang diktator, yang harus memaksakan pemahamannya kepada publik dan meminta imbal balik publik dalam bentuk kepatuhan apalagi cuma sekadar berharap mereka mau terpaksa tertawa bersama. KAGAK!

Gue suka kesal, melihat keadaan di lingkungan terkecil gue, yakni keluarga gue sendiri. Terutama tentang arti kepatuhan. Buat keluarga besar gue, masih aja ada yang menganggap kepatuhan itu hanyalah bentuk kebodohan dari perbudakan, makanya ngapain harus patuh pada sesuatu yang belum tentu benar. NAH ini dia, bentuk kecerdasan namun sekaligus ketololan tingkat langit dan bumi. Benar banget jika dikatakan kepatuhan adalah bentuk kebodohan sekaligus sikap pasrah kepada perbudakan, yang seharusnya menjadi hak merdeka bagi setiap orang.

Lah? Permasalahannya, dia patuh sama siapa? Kan yang gue bilang KEPATUHAN. Kalo mau sedikit njelimet, gue punya teori, mungkin asal kata KEPATUHAN adalah KEPADA TUHAN. Nah, sekarang gimana lo mendefinisikan kepatuhan itu kepada Tuhan? Apakah kepada sesama manusia, makhluk lainnya atau kepada Apa dan Siapa?

Kalo lo cuma patuh pada bos, pimpinan, ketua, kepala suku, kepala cabang, manajer, direktur, menteri bahkan presiden atau raja sekalipun, mungkin lo hanya bisa mendapatkan sesuatu yang kecil dan gak berarti penting dalam hidup lo, bukan?

Justru yang mau gue bicarakan adalah bagaimana elo membebaskan dari kepatuhan yang salah kaprah dan tidak pada tempatnya, hanya pada satu kepatuhan. Yakni kepatuhan pada SATU TUHAN. Lo akan bisa bebas merdeka dengan sebebas-bebasnya tanpa tergantung pada siapapun kecuali pada Satu Hal yang sejatinya sudah Menciptakan elo sebagai manusia. Kita gak mungkin diciptakan Tuhan, Our Greatest Lord, kecuali dengan satu tujuan. Ya itu tadi tujuan kita adalah pengabdian.

Kalo seandainya elo terlahir dengan bakat menghibur dan mengajak orang untuk berfikir dan bertindak sesuai dengan apa yang sebaiknya harus dilakukan dengan patokan hanya kepada aturan dari sang pembuat "manual book of human act" hakiki, ya... gitu deh... pasti kita bakalan selamat. Siapa itu pembuat manual book? Yang jelas yang terbaik adalah manual book ORI dari produsen langsung hidup kita, dan Dia adalah Tuhan kita. TApi, eitssss... tunggu dulu... siapa dulu yang sebut dengan istilah tuhan? Karena banyak sekali dari kita, kalangan orang yang merasa pintar, salah mendefinisikan kata TUHAN. Bahkan setiap bangsa dan suku pun punya definisi yang berbeda dengan kata TUHAN. Bahkan kaum atheist pun juga terkadang jadi begitu absurd mendefinisikan kata TIADA TUHANnya ke dalam konversasi setiap hari saat mereka menyebarkan faham tidak ada tuhan. Termasuk gimana ragunya kaum Agnostik, yang biasanya adalah orang atheist yang kemudian mulai geser pemahamannya menjadi bertuhan, setelah berfikir menggunakan akal sehatnya.

Gue sendiri mendefinisikan, kaum Agnostik adalah orang yang belum mendapat pencerahan dan pengenalan terhadap siapa TUHAN yang sebenarnya dari pengalaman hidupnya. Itulah sebabnya kenapa kita harus berinteraksi dengan manusia lain, barangkali saja itulah langkah awal dari pencerahan atau enlightment. Tapi gue gak lagi bicara tentang illumination, karena makna gandanya serta konotasinya yang lebih kuat dari makna positifnya, pencerahan.

OK. Kita lanjutkan... (setelah break makan siang dan bolak balik ke toilet).

Bismillah, Allahuakbar...!
Selamat malam, apa kabar semua? baik-baik saja bukan?
Alhamdulillah, pas banget buat target saya hari ini. Dhuar...!!!

Pertama, kenalin dulu siapa saya, buat yang belum kenal.
Saya Sidik, bapak 5 orang anak, dan punya beberapa istri.
Jangan tanya tentang istri... entar saya gak mau cerita lagi.
Saya orangnya pencemburu.
Kalo mau tanya, wajib bayar tarif khusus.
Ini kan nonton gratisan...

Saya sering diledekin teroris, justru sama teman dekat saya sendiri.
Tapi alhamdulillah, sekarang dia gak ngeledekin saya lagi,
karena kemarin dia sudah saya bom. Dhuar...!!!

Sesaat saya OpenMic Standup Comedy, di satu cafe.
Penampilan saya nggak lucu, karena saya ngebom.
Penonton gak ada yang ketawa. Teman saya menang taruhan 10 juta dari saya.
tapi dia mati mendadak, kaget gak nyangka dia sendiri menang gampang.

Intinya orang yang menyangka saya teroris karena dua hal, pertama karena belum kenal saya, satu lagi belum tahu bahwa Islam tidak pernah mengajarkan terorisme. Betul banget, Islam menentang terorisme dalam situasi damai. Kecuali situasi perang.

Nah celakanya adalah, definisi "situasi perang" setiap orang dan kelompok berbeda-beda. Makanya ini sebenarnya lihainya setan membodohi manusia. Diplototin tetangga saja, sudah masuk kondisi "situasi perang". Nah ini termasuk terorisme domestik antar tetangga. Betul gak?

Sebenarnya apa sih definisi terorisme? Lihat definisi terorisme di sini selengkapnya. Dikatakan bahwa = Teror atau Terorisme selalu identik dengan kekerasan. Terorisme adalah puncak aksi kekerasan, terrorism is the apex of violence. Bisa saja kekerasan terjadi tanpa teror, tetapi tidak ada teror tanpa kekerasan.

Sedangkan Islam melarang orang beriman (seperti kita, ngakunya), kita dilarang berbuat kekerasan, kecuali sama istri kita, setiap maljum, kita gak boleh lembek.

Bahkan, dalam situasi perang saja, kita dilarang melukai apalagi membunuh orang tanpa senjata terhunus atau senjata yang teracung ke arah kita, kecuali sama-sama nafsu.

Sebagai orang yang beriman dan muslim kita dilarang melukai atau menyakiti anak kecil, orang tua yang lemah dan perempuan yang lemah, kecuali perempuan itu perkasa atau lebih jantan dari kita. Kalau ketemu perempuan kayak gini jangan diajak perang, tapi nikahi atau poligami. Lumayan buat jaga asset.

Bahkan mencabut pohon atau mendobrak pintu rumah saja, kita dilarang oleh syariat Islam. Bayangkan betapa mulianya ajaran Islam, bahkan dalam situasi perang saja, kita diajari adab sopan santun atau etika berperang. Ada yang lebih hebat dari Syariat Islam? Yang lebih mahal banyak.

(nyambung lagi....)

0 komentar:

Posting Komentar

ISILAH BUKU TAMU KAMI

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2014. .- Rizal Abubakar Sidik - - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger