Konsultasi Pengobatan .
HIV/AIDS dan Kecanduan Narkoba .
Hotline: 087878821248.
WA: 0822.4610.4034 - 081385386583 .
Home » , , , , , » Apakah si Pitung Itu Pendekar, Preman atau Jagoan Jawara?

Apakah si Pitung Itu Pendekar, Preman atau Jagoan Jawara?

Written By Blogs owner SidikRizal on 21 April 2015 | 02.10

Bertemu dengan salah seorang tokoh Betawi yang aktif di berbagai kegiatan dan mempunyai nama sandi sama persis dengan pendekar asli Indonesia, yakni si Pitung, maka perlu kita telisik lebih jauh mengapa dia bisa menggunakan nama tokoh jagoan pembela rakyat lemah yang bergelar Pituan Pitulungan alias si Pitung itu.

Tokoh asli kelahiran Rawabelong ini kerap disapa Bang Eki Pitung ternyata masih merupakan cicit langsung dari legenda Betawi si Pitung. Darinya lah penulis baru mengetahui bahwa nama "Si Pitung" sejatinya adalah nama sandi bagi pejuang asli Betawi melawan pemerintahan VOC Belanda yang berpusat di ibukota Sunda Kelapa alias Betawi ini.

Eki Pitung yang mempunyai nama asli Muhammad Rifki yang juga menjabat sebagai Ketua Antar Lembaga Badan Musyawarah (Bamus) DKI Jakarta, termasuk salah satu tokoh Betawi yang disegani dan peduli dengan warga Betawi maupun semua warga anggota masyarakat yang tinggal di kota metropolitan. Sepertinya panggilannya yang diberikan masyarakat dengan sebutan Eki Pitung, memang sesuai.

Bagi Eki Pitung sendiri arti nama Pitung sebenarnya adalah nama sandi perlawanan rakyat Betawi yang sudah sejak ratusan tahun menjadi obyek penderita langsung penjajahan pemerintahan Hindia Belanda di bawah bendera konglomerasi pengusaha asing berbendera VOC, dimana perusahaan perdagangan ini mendapat restu dan akses khusus dari penguasa negeri Belanda hingga yang terakhir adalah Ratu Wilhelmina saat itu. Di satu sisi Indonesia menjadi bangsa yang termodernisasikan mengikuti budaya Eropa, di lain sisi bangsa kita mengalami penderitaan atas kesewenangan para penguasa yang notabene justru bangsa sendiri namun mendapat akses langsung dengan gubermen.

Kantor pusat pemerintahan atau gubermen VOC memang terletak di tanah Betawi, mulai dari bernama Sunda Kelapa, kemudian menjadi Jayakarta dan terakhir lebih dikenal sebagai tanah Batavia, atau Betawi. Jadi jika bangsa Indonesia yang terpecah belah karena politik Devide et Impera VOC, maka tentunya penderitaan rakyat Betawi justru yang paling tinggi karena jadi pusat pemerintahan asing, tentunya angkatan militer dan opas Belanda jauh lebih keras dan tak bisa hanya sekadar dibilang disiplin tinggi. Itulah sebabnya orang Betawi sebagai salah satu suku Melayu tua buat bangsa Indonesia disamping suku bangsa di tanah nusantara yang dikenal lemah lembut, ternyata sedikit beradaptasi menjadi satu suku yang bisa bicara keras kepada penguasa yang zhalim.

Budaya lemah lembut, murah senyum dan tiba-tiba menjadi keras bahkan sepertinya kasar di kalangan orang Betawi, sebetulnya sudah lebih dari ratusan tahun, sama lamanya dengan penjajahan Belanda itu sendiri. Namun karena masuknya agama Islam yang pada saat itu memiliki ajaran faham tentang kebebasan dan kemerdekaan bagi umat manusia dimanapun adanya, dan sangat menolak tindakan kolonialisme serta perbudakan, maka tiba-tiba saja budaya melawan kezhaliman dan penindasan menjadi satu karakter tersendiri yang disukai rakyat, dan hal ini menjadi metode perjuangan membela si lemah melawan penjajahan.

Ini sama halnya dengan semenjak 350 tahun silam ketika VOC masuk ke bumi Nusantara melalui ujung Sumatera, Aceh yang sudah dikenal mempunyai budaya Islam dan pemerintahan syariah, kemudian juga saat Belanda masuk ke pusat kerajaan Indonesia, di Kutai, Kalimantan, akhirnya penguasa VOC mengambil kesimpulan harus menentukan ibukota pemerintahan bagi negara Hindia Belanda. Perlu diingat, bahwa nama pemerintahan HINDIA BELANDA, diambil karena dataran Hindia saat yang sama sudah dikuasai oleh Inggris. Bangsa Eropa memang sangat antusias melakukan kolonialisme sebagai salah satu doktrin penyebaran agama dan kebijakan politik perdagangan mereka untuk menyebar ke seluruh dunia.

Ketika dijadikan pusat pemerintahan VOC, maka pilihan jatuh ke tanah Betawi, yang sebelumnya bernama Sunda Kelapa. Hal ini karena masyarakat Betawi pada saat itu dikenal ramah,lembut dan terbuka kepada siapapun, termasuk masuknya budaya Eropa dan orang asing lainnya. Tak heran di Betawi yang multi etnis ini sudah masuk banyak budaya dari luar sehingga terjadilah akulturasi serta asimilasi melalui perkawinan antar etnis dan suku.

Sudah tak asing, jika di sebagian daerah banyak sekali keturunan Betawi Arab, Betawi India, Betawi Cina bahkan Betawi Jawa, dimana pada masa pemerintahan Raja Mataram, ketika mengirimkan pasukannya untuk menaklukkan Sunda Kelapa, Raden Fatahillah adalah salah satu utusan penguasa Jawa yang akhirnya diterima dengan terbuka oleh masyarakat Betawi, meskipun awalnya terjadi konflik karena kesalahpahaman yang memang sengaja diciptakan oleh pemerintahan VOC demi menjaga kekuasaan mereka.

Romantisme kisah penaklukan Sunda Kelapa oleh Pangeran Fatahillah yang awalnya sudah ditengarai oleh pemerintahan Hindia Belanda melalui satuan intelijen ini, memang merupakan ketakutan Belanda akan bangkitnya bangsa Indonesia untuk memberikan perlawanan serentak yang bisa mempengaruhi opini dunia, bahwa bangsa ini sudah menggeliat gelisah tak setuju dengan faham kolonialisme yang cenderung menindas rakyat.

Tak bisa dipungkiri, bahwa warga Betawi yang tinggal di pusat pemerintahan Hindia Belanda di tanah Sunda Kelapa pun akhirnya ikut memberikan perlawanan meski belum serentak, dan lahirlah tokoh-tokoh masyarakat yang peduli dengan penderitaan rakyat seperti si Pitung, atau si Ji'ih. Nama yang terakhir aslinya adalah Mohammad Roji'ih, salah satu pendekar Betawi yang berjuang bersama Pitung membela rakyat lemah terhadap penindasan VOC yang mulai dirasa kejam dan berlebihan.

Aslinya para pendekar yang belajar semenjak kecil dengan ilmu agama melalui pengajian dan pesantren serta tak sedikit yang belajar ilmu beladiri seperti silat, maka dari sinilah lahir orang-orang yang berani dan berilmu menentang penindasan dan ketidakadilan. Artinya nama si Pitung sendiri adalah gelar atau nama sandi untuk 7 orang dalam catatan sejarah yang berjuang membela kepentingan rakyat lemah. Sehingga tak aneh, jika pemerintahan VOC kadang menjadi keheranan, emngapa banyak sekali kejadian perlawanan rakyat secara perorangan dari sosok pendekar si PITUNG itu. Dan di kemudian hari, perjuangan perlawanan perorangan ini mulai menular ke segenap hati rakyat setidaknya mereka masih bisa punya harapan melawan segala bentuk ketidakadilan. Sosok si Pitung yang semakin sering beraksi mulai dari perampokan kaum berada yang borjuis dan juga dekat dengan VOC, malah semakin membuat pemerintah Hindia Belanda semakin kalap dan ketakutan atas ancaman bagi kewibawaan kekuasaannya. Maka dicarilah jawara-jawara Betawi untuk melawan keberingasan dan keberanian ulah si Pitung merampok harta orang kaya dan konon desas-desusnya di kalangan VOC, semua hasil rampokan itu dibagikan kepada rakyat miskin.

Bagi rakyat Betawi yang kebanyakan miskin, hal ini bukanlah berita buruk justru harapan dan hiburan tersendiri, bagaimana penjajah dipecundangi oleh asli orang Betawi yang misterius. Padahal sejatinya Pitung adalah sebutan dari Pituan Pitulung, alias si Tuan Penolong. Sebagian sejarawann juga mengatakan Pituan itu berarti 7 orang atau si Tujuh yang suka menolong rakyat kecil dan lemah. Dari tujuh orang yang bergerak dan beraksi melakukan tindakan pembegalan dan perampokan orang kaya di kalangan Belanda, mungkin hanya Bang Pitung sebagai satu tokoh senior yang paling disegani orang Betawi dan ditakuti Belanda.

Sosok Pitung yang mirip dengan cerita bangsa Eropa dari Inggris semenjak perang Salib, yakni Robin Hood ini, akhirnya menggambarkan sosok si Pitung seperti Robin Hood van Batavia. Sehingga ada satu lukisan foto artistik yang menggambarkan si Pitung mirip seperti wajah eropa Robin Hood namun dengan baju khas Betawi.

Bicara tentang tokoh legendaris si Pitung, kita juga harus mengingat sosok Bang Dji'ih. Kemudian juga sosok si Jampang, tokoh fiksi karya seniman komikus Ganes T.H. yang pembahasannya kemudian. Setidaknya tokoh jagoan fiksi si Jampang adalah adaptasi langsung dari legenda bang Pitung versi seniman.

Jika kelak nanti sineas Indonesia akan memfilmkan perjuangan si Pitung yang akhirnya mati ditembak tentara VOC karena pengkhianatan para centeng dan jawara yang takut kepadanya juga tentang pembalasan dendam atas tewasnya si Pitung oleh Dji'ih, pasti akan jadi film box office, apalagi jika film tersebut dibintangi oleh David Nurbianto, juara 1 SUCI 4 KompasTV, kemudian komedian lainnya si Afif Xavi finalis SUCI 5 dan tentunya komika senior seperti Arif Didu, Muhadkly Acho dan Rahman Avri dengan peran jagoan diberikan kepada Iko Uwais dan Yayan Ruhiyan, pastilah akan jadi film paling heboh dan box office di seluruh dunia. Apalagi jika sutradaranya adalah Gareth Evans, wow makin seru. Ini seperti kombinasi film The Raid, Comic 8 dan Pembalasan si Pitung Ji'ih serta Si Pitung Dicky Zulkarnain, Lihat saja nanti.

Tapi apa sebenarnya latar belakang perjuangan si Pitung yang suka sekali membangkang penguasa Belanda? Maka kita harus tahu latar belakang posisi si Pitung dari perspektif penguasa Belanda dan dari sisi rakyat yang merasa terbantu.

ISTILAH PREMAN DARI BELANDA
Untuk menggambarkan betapa hebohnya sosok Pitung bagi pemerintahan Belanda, yang sering disebut sebagai vrijman atau freeman dalam bahasa Inggris, maka perlu diketahui dulu sejarah asal usul nama preman. Penulis mengutip dari artikel tentang sejarah preman di Rakyatmerdeka.com berikut ini;

Akhir-akhir ini polisi tengah gencar-gencarnya melakukan razia preman di kawasan Ibu Kota. Preman-preman yang biasa malak atau sekadar jaga parkir ditangkap, diperiksa identitas dan juga digeledah. 

Bila ada senjata tajam atau narkoba maka langsung diproses, sedangkan bila 'bersih' akan dilakukan pembinaan kepada mereka yang dicap preman itu.

"Operasi ini kita lakukan untuk memberi rasa aman kepada warga, karena laporan preman ini sudah meresahkan warga," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto beberapa waktu lalu.

Keberadaan preman saat ini memang sudah meresahkan, pemerasan, penganiayaan bahkan tak jarang pembunuhan kerap mereka dilakukan. Namun apakah arti preman itu sendiri? Benarkah preman identik dengan perbuatan kriminal?

Istilah preman yang saat ini kita gunakan ternyata berasal dari peninggalan Belanda, alias diambil dari bahasa Belanda. Preman berasal dari kata 'vrij' yang artinya bebas atau merdeka, dan 'man' yang artinya orang, sama dengan istilah dalam bahasa Inggris, free man, orang yang bebas atau merdeka.

Pada zaman kolonial, Orang-orang seperti ini tidak mau bekerja sama dengan Belanda dan kerap kali menjadi membangkang terhadap pemerintahan kolonial.

Mereka ini tidak ingin bekerja sama dengan pemerintah kolonial karena memang menolak penindasan atau karena idealismenya yang tak ingin menjadi anjingnya penjajah. Bahkan banyak vrijman atau preman yang dihubungkan dengan sejarah pejuang bangsa ini.

Sebutan vrijman terdengar sulit di lidah orang Indonesia khususnya Jawa dan Melayu. Mereka lalu menyebut vrijman menjadi preman.

Preman memiliki sejarah yang panjang di Indonesia. Sebab hanya istilahnya saja yang berganti hingga akhirnya kata preman yang hingga sekarang dikenal orang. Pada masa Hindia Belanda istilah yang umum digunakan rakyat Indonesia adalah "jago", bukan vrijman atau preman.

Istilah yang mengacu pada ayam jantan ini tidak hanya melambangkan kejantanan atau maskulinitas, kemampuan berkelahi tapi juga mengacu pada orang yang kuat. Walaupun pemerintah kolonial menganggap jago atau vrijman sebagai biang keladi dari setiap kegaduhan yang terjadi, namun bagi rakyat Indonesia pada saat itu para jagoan sebenarnya adalah penolong mereka dari kekejaman para penjajah.

Namun seiring berjalannya waktu, ada jagoan atau jawara yang lebih mementingkan nafsu dan materi belaka. Para jago sesat itulah yang menjadi incaran para tuan tanah pemilih lahan partikulir untuk dirangkul dan tukang pukul atau centeng mereka. Tugas lainnya adalah mereka memunguti pajak dari rakyat. Sementara pemerintah kolonial tak ambil peduli bahkan pemerintah memanfaatkan para jago itu sebagai informan mencari biang rusuh masyarakat. Justru para jago sejati yang gerah terhadap sikap pemerintah kolonial dianggap mengganggu keamanan dan ketertiban.

Setelah Indonesia merdeka, vrij man kebingungan harus mendapatkan uang darimana. Ya, kemampuan mereka hanyalah perang dan bertempur sedangkan masa penjajahan sudah berakhir dan tak ada lagi kata perang. Akhirnya vrij man membuka jasa keamanan. Rakyat harus membayar kepada mereka untuk menjaga ketertiban wilayah mereka.

Fenomena preman di Indonesia mulai berkembang pada saat ekonomi semakin sulit dan angka pengangguran semakin tinggi. Akibatnya kelompok masyarakat usia kerja mulai mencari cara untuk mendapatkan penghasilan, biasanya melalui pemerasan dalam bentuk penyediaan jasa yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Preman sangat identik dengan dunia kriminal dan kekerasan karena memang kegiatan preman tidak lepas dari kedua hal tersebut. 

Namun kini istilah preman tidak lagi merujuk pada mereka yang menolak kolonialisme dan membantu pribumi, vrijman atau preman kini justru meresahkan warga. Pemalakan, kekerasan, penganiayaan dan sejumlah tindakan kriminal dekat mereka.

jika ditilik dari sejarah tersebut, masih layakkah mereka disebut preman?
AKULTURASI BUDAYA
Budaya dari manapun yang datang akan memperkaya budaya lokal dan leluhur kita. Contoh sederhananya adalah budaya keraton solo, dimana para punggawa dan abdi dalem menggunakan BESKAP, yang merupakan AKULTURASI budaya Eropa yg dibawa pemerintah BELANDA.

Kemudian juga budaya wayang, merupakan akulturasi budaya dari HINDIA KUNO yang kemudian di-islamisasikan oleh WALI SONGO dengan kisah Bharatayuda dengan senjata sakti pamungkas KALIMUSADA. Jadi proses akulturasi adalah satu keniscayaan dan tak bisa dibendung apalagi dicegah dengan cara kasar maupun lembut.

Karena sifat manusia pada dasarnya BERADAPTASI dan menyesuaikan diri. Termasuk budaya makanan atau kuliner, bisakah Anda menceritakan darimana datangnya gaya kuliner makan khas Solo, SELAT SOLO yang sangat populer di kalangan Keraton Surakarta? Demikian pula akulturasi dengan budaya oriental, sehingga masuklah sebagian budaya china dalam budaya asli nenek moyang kita yang cintai damai dan terkenal ramah di seluruh dunia sejak ribuan tahun silam, termasuk sejak jaman Majapahit dan sumpah Palapa Gajahmada yang berkehendak menyatukan nusantara hingga ke Indocina sampai juga ke ujung Papua. Mau apalagi, kalo akulturasi adalah SATU KENISCAYAAN, karena itu berkaitan dengan kebebasan individu setiap anak bangsa., seperti halnya kebebasan para polwan hendak memakai jilbab, itu adalah proses akulturasi budaya.

Apakah tidak boleh seorang polwan berseragam polisi menggunakan jilbab? Sama pertanyaannya dengan apakah boleh polwan berpakaian seperti buaya jawa dengan kemben ataupun kebaya. SEMUA jawabannya situasional bukan, pasti ada proses akulturasi di sana.

Mari kita lihat budaya Betawi sebagai contoh yang paling gampang kita lihat dimana Indonesia pernah dijajah lebih dari 350 tahun oleh VOC Belanda yang pada akhirnya kembali membuat bangsa ini menjadi seperti sekarang ini.

0 komentar:

Posting Komentar

ISILAH BUKU TAMU KAMI

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2014. .- Rizal Abubakar Sidik - - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger