Konsultasi Pengobatan .
HIV/AIDS dan Kecanduan Narkoba .
Hotline: 087878821248.
WA: 0822.4610.4034 - 081385386583 .
Home » , , , » Dampak Kecanggihan Teknologi IT Buat Indonesia

Dampak Kecanggihan Teknologi IT Buat Indonesia

Written By Blogs owner SidikRizal on 22 Mei 2015 | 16.36

Sebenarnya judul yang lebih luas adalah dampaknya buat kehidupan umat manusia di dunia, tapi justru saya ingin mempersempitnya se-Indonesia dulu.

Bagi saya ini penting, karena pengamatan saya meliputi keluarga, teman dan lingkungan saya khususnya dan orang Indonesia pada umumnya.

Dimulai dari saya pribadi dan keluarga yang mulai berubah jadi bagian dari budaya gelombang baru yang serba gadget mania.

Yang lebih menyebalkan adalah ibu saya, meskipun beliau tidak IT-minded dan tak selalu mengikuti perkembangan teknologi, tapi kecanduan nya pada smartphone yang serba pintar ini membuat saya jadi kadang takut, selain kesal.

Bayangkan aja berkutat dengan smartphone nya hampir tak kenal waktu, di sela waktu luang nya setelah selesai segala kesibukan hariannya. Sebagai pensiunan pegawai negeri, mungkin smartphone bisa jadi hiburan masa tuanya, tapi kenapa setiap pagi abis bebenah mainan smartphone, siang setelah isoma mainan smartphone, bahkan malam mau tidur di tempat tidur pun masih main smartphone juga? Dan anehnya ketika saya menginap di rumahnya seharian dengan kesibukan nya seperti itu, saya baru saja buka laptop mau update blogs dan medsos, dia malah menegur saya; "Kamu ini kenapa sih, datang ke rumah orangtua, bukannya berbakti, eh malah sibuk dengan laptop?" #Lah Bunda?

Beda dengan saya yang tak mau kecanduan smartphone. Saya bisa bagi waktu seimbang dalam menggunakan gadget ini, Pagi saya pakai BB, sore pakai android, baru malam saya pakai laptop buat internet.

Anak dan istri juga jadi berubah sepertinya tak sesuai dengan harapan dan gaya kehidupan saya saat saya masih kecil dulu. Meski saya sadar, hidup mereka memang beda zaman dengan saya. Tapi bisa bayangkan betapa gondok nya, saat kami berada di rumah, namun semuanya asyik dengan gadget nya masing-masing.

Gegara gadget, komunikasi jadi serba online. Misalnya kemarin malam, anak saya itu BBM-an sama saya, "Bi, minta kirim pulsa dong, ceban aja?" Saya balas, "Kan kemarin baru aja diisi, Nak?" dia jawab yang kemarin itu untuk beli paket langganan android, pulsa telpon habis. Yang ngeselin apa? Dia itu lagi tidur-tiduran di samping saya?

Anak saya itu baru 21 tahun, karakternya anak jaman sekarang, mirip banget dengan beberapa teman-teman komunitas, cenderung emosional dan tak bisa menerima saya masuk ke dalam lingkaran nya secara penuh apalagi terbuka. Bayangkan aja, twitter saya diblok, sama anak sendiri, instagram juga, kecuali path. Itupun karena saya tak punya akun path.

Medsos yang terkoneksi antara anak saya, Rizal, dengan saya cuma BBM, Itupun PIN-nya berubah-rubah karena dia pakai android, saya pakai BBM. Jadi ngeselin banget, dia bisa menghubungi saya kapanpun, saya belum tentu bisa.

Kebiasaanya gonta ganti smartphone, kadang Samsung, kadang iPhone, terus ganti lagi Samsung, membuat saya gak bisa selalu terkoneksi ke dia. Saya tahu dia memang tidak pernah pamer ke saya, kalau dia gonta ganti smartphone. Tapi saya yakin, dia pasti pamer ke cewek nya, dengan gayanya yang suka jadi autis gitu kalau lagi pegang gadget.

"Sayang, aku baru aja ganti iPhone!" katanya tanpa melirik sedikitpun ke cewek nya. Pacarnya jawab, "Wah kebetulan sayang, aku juga baru aja ganti pacar!" terus pacarnya langsung pergi. Tapi Rizal cuma ngangguk aja sambil tetap fokus ke gadget barunya. Beberapa menit kemudian, dia ngomong, "Eh tadi kamu ngomong apa Sayang?" #Parah

Medsos juga mempengaruhi budaya tulisan, sehingga muncullah apa yang disebut dengan generasi alay. Mereka ini seolah peduli. Padahal mereka malah justru merusak bahasa Indonesia. Meskipun mereka mempunyai hak berkomunikasi secara bebas dengan komunitas nya, namun terkadang bisa mempengaruhi kaidah bahasa secara umum, walau tidak mempengaruhi genre bahasa ilmiah.

Mencampurkan angka dan hurup untuk membentuk kata baru yang terkadang diplesetkan dengan bahasa asing, entah inggris, china ataupun arab. Tapi tetap saja jadi lebih sulit dibaca, kecuali antar kelompok mereka. Budaya macam apa ini, mempersulit diri membaca hanya satu kata saja. Terkadang yang menyebalkan satu kata sederhana dipersulit dan diekspresikan dengan banyak huruf. Generasi alay kampret. Hehehe,padahal saya juga dulu pernah seperti mereka.

Ambil satu contoh, "semangat ya!" dirubah jadi "chemunguuuudddd eaaak!" Apa coba itu, satu kata sederhana jadi satu kata dengan huruf yang melimpah kayaraya, gemah ripah loh jinawi. Khuwampraaaeeeeeeedddddd...!

0 komentar:

Posting Komentar

ISILAH BUKU TAMU KAMI

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2014. .- Rizal Abubakar Sidik - - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger